Selasa, 02 Juni 2020

Muncak Gunung Arjuno Jalur Purwosari Dan Peninggalan Para Leluhur

Gunung Arjuno merupakan salah satu gunung favorit yang terletak di Provinsi Jawa Timur, tepatnya berada di perbatasan antara Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan Kota Batu, masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, dan bersebelahan dengan gunung Welirang.

Gunung ini memiliki 4 jalur pendakian, yaitu jalur Tretes, jalur Lawang, jalur Purwosari dan Jalur Batu. Nah, kali ini mounture.com akan menyajikan estimasi waktu dan biaya untuk mendaki melalui jalur pendakian Purwosari – Lawang

Alasan kami mencoba pendakian melalui Jalur Purwosari ini adalah untuk mengenal mengetahui peninggalan - peninggalan kerajaan Majapahit pada masa lalu. Banyak sekali  candi - candi dan petilasan yang tersebar di sepanjang jalur, sumber air pun banyak ditemui. Jadi mendaki kita untuk kesenangan dan belajar mengenal peninggalan peninggalan dari para pendahulu kita.

Basecamp

Basecamp pendakian Gunung Arjuno via Purwosari ini berada di Desa Tambakwatu. Untuk yang pertama kali datang lebih mudah dengan mengetikkan “Parkir VIP Gunung Arjuno” pada gadget masing masing dan tinggal ikuti arah saja sesuai petunjuk map. Dari jalan raya Surabaya - malang sekitar 30 menit perjalanan menuju titik basecamp ini.

Pos 1, Goa Ontoboego

Titik pertama pendakian dimulai dari Desa Tambak Watu yang merupakan basecamp sekaligus Pos Perijinan. Untuk sampai pada pos pertama yaitu Pos Onto Beogo dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Dengan jalan yang masih cukup landai, kamu bisa menemukan tempat pemujaan pertama di jalur ini. Di sepanjang perjalanan kamu akan menemukan beberapa persimpangan, tapi tidak usah takut tersesat, karena kamu bisa mengikuti pipa air yang menuju ke Pos Onto Beogo.

Begitu memasuki kawasan Goa Ontoboego hutan pinus yang ada semakin merapat hingga menimbulkan kesan adem dan asri. Sesekali bau dupa tercium dari beberapa sudut yang memang nampak digeletakkan beberapa sesaji dari peziarah penganut kepercayaan “Kejawen”.

Goa Ontoebogo ini sendiri pada sebuah cerukan bebatuan yang terletak tak jauh dari hutan pinus. Di depan gua tersebut terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan oleh para pendaki dan peziarah untuk melepas penat. Sebuah cungkup dengan arsitektur Jawa tampak megah dengan altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup berukuran sekitar kurang lebih 6,5 × 6,5 meter.

 

Penamaan Goa ini pun dari kepercayaan masyarakat sekitar dari nama tokoh pewayangan bernama Sang Hyang Antaboga alias Sang Nagasesa. Sang Hyang anta boga berwujud seperti ular naga dan dikenal sebagai dewa penguasa dasar bumi. Ia mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta.

Nama Antaboga atau Anantaboga artinya (naga yang) kelokannya tidak mengenal batas. Kata ‘an’ atau artinya tidak; kata ‘anta’ artinya batas; sedangkan kata ‘boga’ atau ‘bhoga’ atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.

Sebuah patung naga pun dibangun oleh para pengurus kawasan ini tepat disamping Hutan Pinus di pintu masuk. Patung ini mungkin sebagai gambaran bagaimana perwujudan dari Sang Naga.

Pos 2, Tampuono & Sendang Dewi Kunti

Pendaikan dilanjutkan menuju pos kedua yaitu Pos Tampuono yang bisa ditempuh dengan waktu 1 jam 15 menit. Di jalur kamu masih bisa santai karena jalanannya masih belum terlalu menanjak. Nantinya kamu bisa menemukan sebuah warung di kiri jalur pendakian ini. Di jalur ini juga kamu bisa menemukan Sendang Kunti untuk mengisi persediaan minum kami. Keadaan di pos ini lebih semarak dibandingkan Pos 1 tadi. Karena banyaknya pondokan para peziarah disini.

Tampuono ini sangat terkenal bagi para pencari ketenangan dan keheningan Gunung Arjuno. Ada beberapa petilasan juga disini menjadikan tampuono salah satu pusat aktifitas para peziarah. Petilasan yang pertama yakni petilasan Eyang Abiyasa dengan jalan setapak yang ditata rapi dengan semen serta di kiri kanan jalan dibentuk taman – taman yang sangat rapi dan bersih. Nama Abiyasa merupakan tokoh pewayangan bergelar begawan yang dikenal sakti. Dalam cerita pewayangan, Ia dipercaya sebagai orang yang menulis riwayat keluarga Barata.

Tak jauh dari petilasan Eyang Abiyasa terdapat pula sendang Dewi Kunthi yang konon jika airnya diminum dapat memberikan keluhuran jiwa serta selalu ingat Hyang Kuasa (Yang Maha Kuasa. Di sini juga terdapat beberapa pondokan. Dewi Kunthi dalam dunia pewayangan merupakan  sosok perempuan cantik yang merupakan ibu dari pandawa lima.

Dan tepat di depan warung yang kami kunjungi terdapat petilasan Eyang Sekutrem.  Lokasi petilasan ini dinaungi oleh pohon – pohon besar sehingga terkesan wingit dan angker. Bangunannya berukuran 2,5m x 2m berbahan beton dengan lantai dan lapisan dinding yang terbuat dari keramik. Konon, pengunjung yang ingin mendapatkan berkah, harus singgah di petilasan ini lebih dulu. Di dalam petilasan, ada sebuah arca yang terbuat dari batu andezit dengan tinggi sekitar 70 cm.

Pos 3, Petilasan Eyang Sakri

15 menit berjalan dari Pos 2 kita dapat menemui Pos 3 atau petilasan Eyang Sakri. Pos yang mempunyai sebuah halaman luas dengan sebuah bangunan rumah yang terkunci rapat. Dapat aku perkirakan jika di dalamnya mungkin sebuah makam atau arca dari Eyang Sakri itu sendiri. Karena memang perjalanan yang masih singkat kami pun melanjutkan kembali pendakian.

Pos 4, Petilasan Eyang Semar

Sinar matahari mulai temaram ketika langkah kami tiba di Pos 4 atau petilasan Eyang Semar. Disini terdapat banyak pondokan persis seperti pada pos 2 Tampuono dibawah sana. Namun yang sedikit berbeda pondokan disini berbentuk semi permanen dengan atas dan dinding dari ranting dan alang alang saja. Namun cukup membuat hangat bagi para peziarah yang bermalam di tempat ini.

Arca Eyang Sakri (Sumber)

Aku sedikit tak bisa mencerna kata tahunan yang ia maksud. Akhirnya pertanyaan dan pertanyaan kembali meluncur. Namun kembali jawaban jawaban yang tak masuk akal untuk diterima. Bagaimana orang orang peziarah ini bisa hidup lama di ketinggian, tanpa perlengkapan mumpuni, bekal pun hanya sedikit. Mungkin orang orang ini mempunyai dimensi yang berbeda pikirku. Biarlah asal semua yang ada disini tetap terjaga dan lestari seperti sedia kala, apalagi ada para peziarah yang menganggap tempat ini sakral, pastinya mereka akan menjaga tempat ini juga.

Konon katanya juga pos 4 ini merupakan tempat “Moksa” atau menghilangnya Eyang Semar yang merupakan penasehat kepercayaan Raden Arjuno. Sebuah arca berselimut kain putih yang menghadap timur yang dipercaya sebagai perwujudan Eyang Semar itu sendiri.

Pos 5, Makutoromo


Selepas Pos 4 jalanan kembali menanjak tajam dengan kemiringan yang curam. 30 – 45 menit perjalanan yang harus ditempuh hingga kami tiba di sebuah pelataran luas dengan sebuah punden berundak yang berada tepat di tengah tengah. Kibaran bendera berwarna hijau nampak menghiasi punden ini. sesaji dan dupa pun berderet mengelilingi punden yang nampak sangat keramat ini. Konon di punden inilah dahulu Dewa wisnu sering melakukan pertapaan. Arca arca pun sangat mudah ditemui di sekitaran.

Di pos 5 ini juga merupakan pos paling ideal untuk mendirikan camp sebelum mencapai Puncak Arjuno. Jarak dari puncak masih cukup jauh tapi adanya sumber air dan toilet bersih menjadi nilai tambah untuk camp di Pos 5 ini. Bagi yang tak membawa tenda pun sebenarnya terdapat banyak pondokan berukuran besar yang mampu menampung puluhan pendaki.

Disaat langit cerah seperti pada waktu itu. Bintang bintang pun menampakkan wujudnya dengan sangat indah. Walaupun di Tampuono banyak berdiri pepohonan besar nyatanya di beberapa sudut bintang bintang malah terlihat makin mempesona. Walaupun udara sangat dingin kala itu, bau dupa pun semerbak tapi tekad tak ingin melewatkan momen malam yang indah ini yang membuat aku bertahan untuk mengambil beberapa foto malam di Tampuono.

Pos 6, Candi Sepilar

Tepat pukul 03.00 alarm berbunyi begitu kencangnya dari handphone. Walaupun malas tapi kami memang harus bangun untuk bersiap siap melakukan “Summit Attack” ke Puncak Arjuno. Karena memang menurut info jarak dari Pos 5 menuju puncak masih sangat jauh sekitar 4 – 5 jam lagi. Maka dari itu kami harus bersiap dari semenjak sebelum subuh.

Tepat pukul 04.00 kami pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan pos 5. Dan sekitar 5 menit berselang kami sudah memasuki areal Candi Sepilar. 3 buah arca dengan wajah yang menyeramkan menyambut kedatangan kami. Tepat di tengahnya terdapat sebuah jalur menanjak, dengan bebatuan yang tertata rapi. Kami pun terus melangkah sembari aku hitung arca yang berada di kiri dan kanan jalur. Tepat ada 9 Arca yang mengapit jalur pendakian.


9 Patung penjaga "Pandawa Lima"

Dan konon menurut beberapa sumber arca berjumlah 9 ini merupakan sosok yang menjaga daerah Sepilar ini, dan tepat di batas jalur bebatuan ini terdapat sebuah deretan patung yang melambangkan Pandawa Lima “Yudistira, Bima dan Arjuna” sedangkan “Nakula dan Sadewa” telah hilang diambil para pencuri.

Melangkah kembali Candi Sepilar pun menampakkan wujudnya diantara keheningan malam. Terbuat dari bebatuan andesit dan nampak cukup terawat baik. Aroma dupa pun kembali semerbak dimana mana. Kami pun melanjutkan langkah, kembali menapaki setapak kecil dengan Puncak Arjuno tujuan kita sebenarnya.

Pos 7, Jawa Dwipa



Kami tiba di Jawa Dwipa tepat beriringan dengan sinar matahari yang mulai muncul di ufuk timur. Semburat cahaya jingga berpadu dengan sisa sisa kegelapan menjadikan sebuah perpaduan siluet yang indah. Gagahnya gunung Semeru di seberang sana semakin membuat pagi kala itu sungguh sempurna. Tak lupa kami bersyukur atas nikmat ini semua. Di Jawa Dwipa ini juga tempat yang cocok untuk camp walaupun tak ada sumber air disini tetapi jarak ke Puncak sudah semakin dekat.

Jalur setelah Jawa Dwipa

Selepas Pos 7 vegetasi mulai merapat dengan hutan pinus yang rindang. Sinar matahari seakan tertahan dengan dedaunan yang ada menjadikan udara semakin sejuk dan dingin tapi jalur yang ada semakin menjadi jadi. Dari kejauhan puncak ogal agil yang berwujud runcing tajam sudah dapat kita lihat.

Sekilas nampak dekat dan mudah untuk digapai namun kenyataannya hingga pukul sepuluh siang pun kami tetap berada di dalam hutan pinus yang seakan tak berujung. Sedikit demi sedikit melangkah namun apa daya tenaga yang semakin terkuras memaksa kaki untuk berhenti. Apalagi kami belum mengisi perut semenjak malam tadi.

Plawangan

Jalur tiba tiba menjadi landai menyusuri pinggiran jurang dan suasana pun menjadi panas karena jalur sudah tak berada di dalam lingkup hutan pinus lagi. Pohon pohon cantigi dengan padang rerumputan mulai menghiasi. Terdapat juga sebuah pertigaan dengan jalur kekiri yang mengarah ke Lawang.

Aku sempat berhenti sebentar dan mengamati jalur yang menuju kebawah itu. Nampak sangat terjal, rindang dan mistis karena jalur langsung masuk ke dalam “Alas Lali Jiwo” yang terkenal itu. Dan dari pertigaan mengarah ke kanan jalur kembali menanjak dengan tajam.

Percabangan Menuju Alas Lali Jiwo

Jam tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang namun udara sangat sangat dingin ketika kami mulai makan dibawah pohon cantigi yang lumayan rindang. Tangan sampai kebas kedinginan. Makan pun terasa kurang nikmat mungkin karena badan yang terlalu lelah, perut pun hanya terisi sedikit saja. Tapi sudah cukup untuk mengisi tenaga ke puncak.

Tapi memang Gunung Arjuno “Luar Biasaaa”.

Puncak Arjuno (Ogal Agil)

Tepat pukul 12.00 siang dan dengan sisa sisa tenaga kami akhirnya sampai di Puncak Arjuno yang biasa orang sebut Puncak Ogal Agil karena batu batu di puncak ini jika dilihat dari bawah seperti bergoyang (Ogal Agil) jika tertiup angin. Bongkahan batu batu berbagai ukuran tersebar di Puncak Arjuno. Melangkahkan kaki pun harus tetap berhati hati jika tak ingin terpeselet dan terjatuh.

Sesampainya di puncak aku tak langsung histeris untuk mengabadikan momen melainkan mencari tempat untuk beristirahat sejenak, karena memang kali ini aku betul betul kepayahan. Kebetulan ada satu sudut dimana bongkahan batu membentuk seperti celah sempit yang dapat digunakan untuk berteduh dan beristirahat. Sekitar 5 menit aku memejamkan mata namun udara dingin membuat istirahatku sungguh tak nyaman. “Daripada kedinginan disini mending foto foto saja sekarang dan segera turun agar tak kemalaman sampai di camp” pikirku.

Cuaca saat itu sedang sangat terik namun tak terasa panas sedikitpun karena udara yang cukup dingin saat berada di Puncak. Deretan puncak puncak lain terlihat begitu indah, mulai Gunung Kembar 1, Kembar 2, dan Puncak Welirang yang selalu mengeluarkan asap belerangnya dan jauh diseberang nampak gagahnya Mahameru yang berselimut awan. Melihat kebawah nampak hijaunya Lembah Kidang yang berada diantara rimbunya hutan pinus. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata dan ini pun menjadi salah satu alasan kenapa aku selalu kembali dan rela bersusah payah untuk mendaki gunung.

Di Puncak Arjuno ini pun terdapat sebuah mitos yaitu jangan sekali kali duduk di batu berbentuk kursi kalau tak ingin celaka. Karena batu ini merupakan singgasana dari penguasa Gunung Arjuno. Percaya tidak percaya sebenarnya tapi demi menghormati semua yang ada aku pun mengindahkan aturan dari kepercayaan masyarakat setempat.

Dibalik pemandangannya yang aduhai dan cerita mitosnya puncak Arjuno pun tak lepas dari sesuatu yang membuat miris hati. Batu Batu di puncak Arjuno ini penuh dengan coretan coretan vandalisme dari para pendaki yang tak bertanggung jawab. Dan sampai sekarang akal sehatku pun masih belum bisa berpikir.

Dan banyak pelajaran yang kami dapatkan ketika mendaki Gunung Arjuno kali ini. Terutama tentang perjuangan, cerita cerita masa lalu dan sejarah tentang jalur pendakian, hingga pentingnya kesadaran akan menjaga kelesetarian alam. Dan semoga apa yang kami jalani saat ini membawa hikmah dan manfaat bagi masing masing pribadi.


Catatan Pendakia

Basecamp – Pos 1 (Goa Ontoboego) : 1 Jam

Pos 1 (Goa Ontoboego) – Pos 2 (Tampuono) : 1,5 Jam

Pos 2 (Tampuono) – Pos 3 (Eyang Sakri) : 15 Menit

Pos 3 (Eyang Sakri) – Pos 4 (Eyang Semar) : 1,5 Jam

Pos 4 (Eyang Semar) – Pos 5 (Makhutoromo) : 45 Menit, sumber air terakhir ada di Pos 5

Pos 5 (Makhutoromo) – Pos 6 (Candi Sepilar) : 10 Menit

Pos 6 (Candi Sepilar) – Pos 7 (Jawa Dipa) : 2 Jam

Pos 7 (Jawa Dipa) – Puncak Arjuno : 4 – 6 Jam

Pencapaian waktu tiap pribadi mungkin berbeda tergantung dari kondisi fisik masing masing

Menurut saya pribadi setelah beberapa kali melakukan pendakian ada banyak sekali pendaki yang tidak sampai puncak bahkan saya pun pernah mengalaminya semua itu karena persiapan fisik, mental bahkan banyak faktor lainnya serta peralatan yang kita bawa kurang memadai pastinya.

Maka dari itu mendaki gunung perlu persiapan yang matang, jangan hanya ikut-ikutan teman atau tergiur dengan pesona keindahan yang kamu lihat di sosial media, asal kamu tahu, mendaki gunung itu nyawa taruhannya.


1. Mendakilah dengan team yang berpengalaman, minimal pendakian 4 orang jangan pernah
kurang dari itu, karena itulah prosedur pendakian.

2. Jangan pernah bicara sembarang, karena setiap gunung pasti berpenghuni, mendakilah dengan sopan layaknya kita bertamu kerumah mantan.

3. Perlengkapan pendakian harus lengkap, contoh kecil pakailah sepatu tracking dan teman-temannya yang lain.

3. Persiapan logistik harus lengkap serta bertenaga, ingat jangan terlalu over karena akan menambah bebanmu saja. Bawa air juga harus cukup.

4. Jika ada salah satu dari teman tidak bisa melanjutkan perjalanan sangat di wajibkan ada yang menemani jangan ditinggal.

5. Jangan pernah buang sampah sembarang serta mengambil apapun disaat mendaki, bawa kembali sampahmu.

mau lihat perjalanan review nya silah simak video dari chanell youtube Maz Ediz 

Part 1 


Part 2


follow instagram @ediz_official.

follow instagram @syamspfp_ .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjalanan Menuju Keindahan Puncak Gunung Merbabu

Menjelajah Keindahan Merbabu memang mengasyikkan bagi penggiat alam bebas. Mendaki melewati jalur yang landai, yang banyak tumbuh pepohonan ...